Back to Index

News

Beyoutiful Aesthetic Clinic Kupas Tuntas Melasma hingga Obesitas serta Cara Penanganannya


Indonesia Women Fest 2026 kembali menghadirkan talkshow edukatif dan inspiratif bagi Women Gengs serta pengunjung yang hadir pada hari ketiga pelaksanaan, Minggu (31/5/2026).  Beyoutiful Aesthetic Clinic dihadirkan di area Main Stage untuk membawakan dua sesi talkshow, yakni Beauty dan Wellness. 

Pada hari terakhir ini, dr Teuku Adifitrian, Sp. BP-RE. Subsp. EL (K) atau yang akrab disapa dr Tompi hadir membawakan informasi edukatif seputar  melasma. Selain itu, hadir juga dr Arti Indira, M.Gizi, Sp.GK, FINEM, ahli gizi klinis yang mengupas tuntas soal penanganan obesitas. 

Pada sesi Beauty, dr Tompi membahas bahwa melasma adalah kondisi kulit yang bisa diperbaiki, asalkan dilakukan dengan prosedur yang tepat. 

“Melasma yang saya bicarakan di sini mostly adalah melasma karena over treatment sehingga skin barrier rusak,” ujarnya. 

Agar lebih mudah dipahami Women Gengs, ia mengibaratkan kulit wajah sebagai rumah yang harus direnovasi. Penanganan seperti peeling, laser, dan penggunaan krim pencerah untuk depigmentasi yang dilakukan secara berlebihan, ia ibaratkan seperti “merenovasi” kulit dengan proses yang cepat tapi hasilnya sementara. 

Ia sering kali menemui pasien yang melakukan over treatment terhadap kulit demi mencapai tampilan kulit glowing serta bebas bintik hitam melasma. Sayangnya, over treatment membuat skin barrier rusak sehingga kulit lebih rentan terhadap paparan sinar UV, panas, dan polusi yang menjadi faktor timbulnya melasma. 

“Oleh karena itu, ada orang yang setelah treatment bagus, kemudian balik lagi untuk treatment dengan kondisi kulit yang lebih buruk dari sebelumnya. Saya di sini tidak menyalahkan laser. Treatment tersebut baik apabila dilakukan dengan prosedur yang baik. Kita perlu revisit lagi bagaimana cara menangani melasma,” jelasnya. 

Memperbaiki melasma, menurut dr Tompi bukan sekadar mengubah tampilan warna kulit tetapi harus termasuk stabilisasi kondisi skin barrier agar kulit tenang. Kondisinya perlu diperbaiki menggunakan biologi regeneratif, bukan sekadar bahan aktif penghancur pigmen melasma. 

“Hentikan toxic relationship dengan treatment berlebihan. Perawatan agresif, skin barrier rusak, kemudian flek tambah parah, kamu panik, dan naikin dosis eksfoliasi, treatment yang lebih keras,” imbau dr Tompi. 

Salah satu yang digunakan adalah transfer nanofat yang (stem cell dan growth factor) untuk mengembalikan kondisi kulit menjadi sehat. Setelah itu, beri proteksi kulit dengan creamide, lipid, dan proteksi UV superketat agar kondisi kulit tetap terjaga. 

“Ingat, kulit yang sehat itu bukan kulit yang putih, tetapi kulit yang tenang. Stop siksa kulit demi kepuasan instan dan ganti ke perawatan biologis,” ujarnya. 

Pada sesi Wellness, dr Arti membahas obesitas yang saat ini sudah menjadi permasalahan kesehatan global. Obesitas, menurut WHO sudah menjadi penyakit kronis sehingga penanganannya tidak sesimpel mengurangi porsi makan. 

“Obesitas butuh diperlakukan seperti penyakit kronis lainnya. Obesitas tidak lagi tentang makan banyak dan malas olahraga. Sayangnya, tidak banyak orang yang menangani obesitas secara medis dengan konsultasi ke dokter gizi,” kata dr Arti. 

Ia mengatakan, obesitas, terutama pada perempuan menjadi lebih rumit karena perempuan mengalami fase-fase kehidupan yang berbeda dengan laki-laki. Pada awal menstruasi, pra kehamilan, kehamilan, pra menopause, hingga menopause, metabolisme tubuh perempuan berubah. 

“Di setiap fase itu, makronutrisi dan mikronutrisi yang diasup ke dalam tubuh harus sesuai. Oleh karena itu, tata laksana obesitas pada perempuan cukup rumit,” terangnya. 

Pada sesi tersebut dr Arti menjelaskan bahwa 3 pilar penanganan obesitas terdiri dari modifikasi gaya hidup, terapi farmakologi, dan terakhir tindakan bariatrik. 

“Kita bicara dulu mengenai modifikasi gaya hidup. Kita dapat ibaratkan seperti tarik tambang. Makan lebih sehat dan aktivitas fisik membantu menurunkan berat badan berlebih. Namun, di sisi lain tubuh manusia pintar. Di tengah upaya itu, hormon satiety yang mengirim sinyal kenyang menurun, lebih lapar, dan energy turun,” katanya. 

Pada kondisi itu, konsultasi dengan dokter ahli gizi bisa menjadi solusi. Terapi farmakologi dengan penyuntikan hormon GLP-1 yang membuat kenyang bisa dilakukan seminggu sekali dengan pengawasan dokter. Selain itu, dokter gizi bisa mengatur pola makannya.